Berbusa

Diantara kerumunan orang, aku adalah yang paling terkutuk.
Niatnya mencari senang di keramaian, malah ku terkapar di atas kardus stand penjaga mie instan.

Kuingin pulang tapi ku ingin senang-senang.

Kuingin pulang tapi security belum meminang.

Wahai penjaga stand mie instan. Bantu aku tersadar, Bantu aku pulang dan tolong mengerti bahwa aku salah untuk senang-senang. 

Mencari ramai di sunyian diri.

Advertisements

Lamunan desa

Goetoeng Roeyoeng

Di bungkus nya kado senyum itu, kado yang tidak akan pernah salah diterima keluarga sahabat tercinta kampung halaman.

Hijau kebun dan sungai mengitari persawahan, dikelilingi para petani. kelompok musisi tani menari, mengitari padi. senyum tawa gelitik memutar berputar. Sepenjuru desa dan padi pun senang air riak musim panas menari terang.

Berjoget semut semut masuk kedalam lubang.

Satu satu jemuran kering dengan instan.

ibu ibu senang anak anak pun riang.

Air kelapa segar di petik tetangga sebelah rumah, dikasi untuk hadiah kebun pak tani, oh indahnya pedagang pasar mempersiapkan hasil bumi gemuruh pasar di pagi hari.

 

Review Album Pisang

The Velvet Underground & Nico

Originally issued as Verve V6 – 5008, March 1967.

 

Sunday Morning adalah pembuka dari album bertajuk 45TH ANNIVERSARY DELUXE EDITION The Velvet Underground & Nico.

Yesss… siapa sih yang engga penasaran sama album ini, sama halnya keinginan dalam dasar ketidak tahuan kalian, dengan ingin mengupas satu persatu kulit pisang di depan cover albumnya, Sesuai tulisan di depan cover album “PEEL SLOWLY AND SEE”. Kesengajaan nan kelam namun memenuhi unsur keindahan yang di percaya, cantik tapi penuh sayat, suatu kejanggalan yang seharusnya tidak ada.  Jadi, siapa yang ga suka sih album pisang ini?

Pesta Dibawah Kaki Gunung Merapi 

Jalan Gelap – Kelelawar Malam Album Review

Pesta dibawah kaki gunung merapi.

Apa yang terjadi dengan album baru Kelelawar Malam bertajuk Jalan Gelap, apakah mereka memberikan jiwa mereka dan bergabung dengan ordo vampir? Babylon terlalu Danzig. Mungkin ini jalan gelap yang ditempuh Kelelelawar Malam dan berubah menjadi Desmodus Rotundus. Kelelawar Malam terlalu haus akan darah, membuat mereka kekenyangan dan bertransformasi menjadi… Desmodus Rotundus.

3.7 / 5

Metal + Horror + Punk

Review Album Kaset Black Mustangs

9 April 2017, Tangerang Selatan.

” Terbayang film dokumenter berjudul DIG (tentang The Brian Jonestown Massacre), karakter orang-orang yang tidak peduli dengan kemaujuan jaman, dan juga tidak peduli dengan cita-cita mereka, no future kalau kata Sex Pistols “

Liner notes dari Toni Dwi Setiadji (Gitaris BRNDLS) yang bisa kalian temui kalau punya kaset bertajuk Black Mustangs rilisan ke-empat dari Anoa Records. kaset yang dirilis ke publik hanya 100 copy dan beruntungnya gw punya dapet nomor ke-90 dari keseratus kaset itu.

Bermula dari pagi itu atau siang… lupa… ajakan teman dari WhatsApp untuk main ke blok m square.

” emang ada apa di blokM square? ” nanya.

” Ada Record Store Day ” saut dia.

datanglah gw kerumah temen gw ini, ngobrol… oh… Record Store Day oh… Black Mustangs oh… Barefood oh… Seaside oh… Anoa Records oh… Shoegaze oh… Kaset oh… CD , okelah.

Di putar lah preview dari soundlcoud atau apalah itu streaming streaming gitu.

Menuju lah kita ke blokM square.

Datang kepagian.

Muter-muter capek.

Nungguin toko twins music buka.

kita mampir-mampir lah ke sebelah ada toko Legend, Bakrie Music, Warung Musik, dll.

Tiba-tiba auto buy aja kaset album Electric Ladyland, dan Bob Dylan best of, 60rb raib seketika.

 

Akhirnya… buka juga toko Twins Music nan sempit itu.

Udah lumayan rame juga.

Datang juga empunya Anoa Records bawa kaset.

Digelar lah sembarang. semuanya pada sibuk nyari nomor paling kecil di belakang kaset.

eh… tiba-tiba datanglah dua orang salah satunya berambut blonde yang ternyata dua orang itu personil Black Mustangs, sesi TTD dimulai-lah.

Kita pulang…

Dan gw gasabar mau dengerin via kaset ini. Masuklah itu kaset ketempat tidurnya, radio tape.

Duduk gw dipojokan kamar Monski yang remang diatas ubin dingin AC, disambutlah gw dengan kehampaan suara gitar yang banyak, di titik inilah gw percaya akan musik lokal.

2 hari kemudian lari gw dari kampus ke blokM square, ketemu sisa satu si nomor 90 ini, seharga 50rb.

Black Mustangs
Album Format Kaset.
All Songs written and composed by Black Mustangs.

 

Vocal and Tambourine – Dimitri Dompas
Elcetric Guitar and Vocal – Jonathan Pardede
Elcetric Guitar and Vocal – Roberto Bhisma
Elcetric Guitar – Fritz Adi Nugroho
Bass Guitar – Jody Andata
Drums – Andreas Barlenando

 

Mixing Mastering – Joseph Saryuf
Tracking Engineer -Leo Faray Zaky
All Tracks recorded in 2010
at Sinjitos Studio Jakarta

 

Cover Artwork by Banyu Bening Frieta
Graphic Design by Ritchie Ned Hansel
Produced by Black Mustangs and Anoa Records
Published by Anoa Record

 

Support musisi lokal favorit lo dengan membeli Rilisan Fisik / Merchandise dan datang ke acara gigs nya friends.

 

Menemukan Bangkutaman “Ode Buat Kota”

20 Desember 2016 di Joglo Beer, Kemang, Jakarta. Menjadi hari bersejarah bagi saya karena dipertemukan dengan Bangkutaman di acara Rilis Party album baru Indische Party bartajuk ANALOG.

Hal pertama yang ada dikepala saya ketika mendengar Bangkutaman.

“apa band ini berisikan musik sendu seperti Payung Teduh” 

“kok gak nyambung banget sama Indische Party ya…” 

“kok namanya Bangkutaman” 

“Band cemen ini pasti :)”

Dan bertanyalah saya kepada seorang teman disebelah.

“Bangkutaman band apaan sih, kok namanya Bangkutaman gitu, mirip Payung Teduh gitu ya…? Dengan tidak pasti juga iseng”

dia jawab 

“ada deh band asik ini, gw juga baru denger satu lagu doang yang asik sih di Youtube, gw juga lupa judulnya, dengerin aja nanti”

“ahh yaudah lah…”

Niat datang ke Joglo Beer cuman mau liat Indische Party aja… dan munculah band pembuka pertama dari secercah keriuhan acara malam itu yaitu Sisitipsi “Gue juga baru tau ini band, dari ANALOG rilis party, Kampret emang..” sang vokalis yang tinggi dengan muka dan mata merah di selimuti bayangan dari topi khas nya, berdiri di pangggung dan memeluk sebuah mic dan suasana yang tegang pun berubah jadi syantai sesantai Joni Syantai yang sedang Lepas Kendali disaaat Mencium Aroma Dia. Bangsyat memang… aromanya… psikedelik syekali…

 

IMG_20161220_210046.jpg
Sisitipsi

Selesai sudah Sisitipsi berlabuh rindu, kemudian semua bubar. Para Soundman/Cableman (Teknisi / Orang yang penting untuk kelangsungan sesuatu gig kalo ga ada ini orang mereka pada akustikan doang kali ya… hahaha) mengganti dan merapihkan alat-alat musik di stage.

Obrolan pun berlanjut di tengah crowd yang sedang syantai akibat efek 73% Sisitipsi dan gue juga masih bertanya-tanya dalam hati soal bangkutaman…band apaan sih nih.

Dalam obrolan pun terucap nama Acum sebagai vokalis Bangkutman.

Persiapan pun sudah oke, naiklah Bangkutaman ke atas panggung mininalis itu dan crowd pun mulai mengerubung.

Bangkutman mulai…

Dengan ucapan sambutan kepada Indishe Party soal album barunya dan Jreng… masih belum nge tune ini musik mereka ditelinga…  ternyata rock n roll asik aja…yaudahlah asikin aja.

Sepertinya ini lagu terakhir, soalnya terdengar catchy, lirik seperti ini..

“ooooooo Catch Me When I Fall ooooooo Catch Me When ….

Gue pun bertanya 

“ini lagu asik yang lu bilang itu?”

Temen gue pun jawab 

“ kayaknya sih, gue lupa di…” Sambil menenggak botol beer nya

Ternyata itu bukan lagu terakhir…

Dan.

Na… nana Na nanana Na nanana Na nana Na Na Na…

Tuk suara bising di tiap jalan

Tuk suara kaki yang berlalu lalang

Tuk suara sirene raja jalanan

Tuk suara sumbang yang terus berdentang

Na… nana Na nanana Na nanana Na nana Na Na Na…

Seminggu itu saya sedang mengulik tiap-tiap album dari Lou Reed dan pada seminggu itu pun saya full sedang jatuh hati mendengarkan album Coney Island Baby dan… berjumpa saya dengan lagu pertama di album itu, Crazy Feeling.

Bener-benar crazy feeling saya dibuatnya dan bertepatan dengan lagu terakhir Bangkutaman itu menjadi jelas dan terkoneksi.

“saya baru tau judul lagu terakhir itu, berjudul Ode Buat Kota, yang didapat sesudah saya sampai rumah dengan hasil Googling.

Dan saya pun teriak kepada teman di belakang saya ” bangsyat ini Lou Reed banget” “Keren banget” “Ahh.. gila ini Lou Reed banget men…”

Hari pun berlalu…

Tujuan utama… beli CD album Ode Buat Kota.

Cari di BlokM Square mahal gila… harganya gocapan dan malah ada yang lebih (mahasiswa). Cari di instagram #bangkutaman #jajanrock akhirnya ketemu  juga… 

Di Bintaro sektor 9 ada sebuah café bernama un’juan kopi yang menjual rilisan fisik dengan harga normal.

Dengan rambut gondrong agak lepek karna habis hujan dan menenteng  jaket jeans kumal, saya masuk pintu dan disambut oleh pemilik café dan langsung bilang saya yang tadi nanya bangkutman di instagram dan kita pun mencari cd di rak itu, dan gak ketemu, kampret mana nih… pesimism saya dibuatnya dan pemilik cafe pun menelpon owner cd nya dan dibilangnya masih tersisa, lalu… dicari di box kecil dan… ketemu! terselip karena fisik yang dimilikinya nan mini, album Ode Buat Kota pun didapat!. Keesokan paginya hari minggu dan kamar pun terisi gemuruh kota Jakarta.

PS: saya berharap kedepanya Bangkutaman ya… begini aja lah wuahaha, btw mini album Rileks harus dibuat CD nya sih… bete juga nyetel dari kaset,kalo mau bikin kaset lagunya maksimal dua aja… hahaha, gue juga belum beli kasetnya sih, dan karna gue lemah juga di streaming. Lagu baru / Single dari Bangkutaman untuk Lokananta bertajuk Lukisan (2017) ini… bagus banget. Lanjutkan ini wahai manusia-manusia di Bangkutaman.

 

Showcase Epilogue by Oscar Lolang

​12 Maret 2017, Paviliun 28 Jakarta

Showcase Oscar Lolang “Epilogue”

Sore itu… 

Dari nongkrong bareng kawan di Unju’an kopi Bintaro sektor 9, tersinggunglah sebuah nama, Oscar Lolang, yang membawa kita keesokan hari ke Paviliun 28 Jalan Petogogan No.25, 11, Kebayoran Baru, RT.7/RW.7, Pulo, Jakarta Selatan, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12140, Indonesia.

Mini showcase nan intim yang membawa audience masuk menuju pusara 😉 

Cuman tau Oscar Lolang itu musisi Folk dari Bandung tapi katanya semalem sih aslinya orang Bintaro, dateng ke showcase dengan minim info soal Oscar, untungnya ada sesi diskusi dan tanya jawab soal EP nya ini, dengan Tamara (Sutradara Videoklip Little Sunny Girl), Vira Talisa (Art Cover Illustrator) Dan tentunya Oscar Lolang sendiri, yg Di tengahi oleh Sang manajer dari Oscar untuk menjadi MC sepanjang showcase Epilogue dimulai.

Di Showcase Epilogue, Oscar dibantu oleh sahabat nya Jon Castella sebagai pembuka dari Epilogue membawakan beberapa lagu Dan juga di akhir akhir Epilogue berduet dengan Oscar, bukan Jon Castella saja yang membantu, di satu lagu gw lupa judulnya Oscar berduet dengan adik perempuanya sebagai Back Vocal.


Dan yang spesial dari Epilogue yang diadakan di Paviliun 28 ini ialah Oscar mengajak seluruh audience untuk Live Recording salah satu lagu yang akan dirilis  untuk full album nya nanti. Ada vocal dari Vira Talisa juga nih berarti.

Kumbaya my lord… Kumbaya…

Review The Kuda – Satu Aku Sejuta Kalian

 

Review Album, The Kuda – Satu Aku Sejuta Kalian

Berbekal pinjam dari teman sekarang mau review CD album The Kuda bertajuk “Satu Aku Sejuta Kalian”

Sebelumnya terimakasih kepada Maulana Haitami yang suka minjemin CD 🙂 😀 wuahaha

Pertama Kali liat Fisik dari tampak belakang cd cover album ini kok lagu nya banyak amat.

“setelah di ingetin sama temen, terbesit di pikiran, loh iya ini band punk 😀 “.

Dengan cover tampak depan background gunung gitu dan ada orang teriak berpakaian normal Dan 3 orang lainya memegang alat musik Dan berpakaian normal juga, dari cover nya sih ini menjanjikan, tulisan The Kuda di cover depan kanan atas yg besar, sama besarnya dengan gunung disebelahnya dan juga foto 4 manusia dibawahnya, yg pasti itu personilnya.

Hantu laut lagu dari album ini yang membuat gw mikir… ada ya lirik yg begini dan benar benar asik.

Satu album penuh yg bisa bikin lompat di manapun kalian berada, ga penting liriknya ngomongin yang jelas apa engga, ini bener-bener asik.

S! O! S! O! S…

Apakah saat lagi manggung, crowd nya akan cium tangan sang vokalis ?? Ngebayanginya aneh sekaligus keren juga hahaha dan menjadi Pertanyaan yg masih belum hilang dari pikiran gue.

Dan… apa itu Tumbila!?. *Gugling dulu

Menurut gue ini album layak ada di rak koleksi kalian.

Support musisi lokal favorit lo my fren dengan membeli Rilisan Fisik / Merchandise dan datang ke acara gigs nya fren.

Main Ke Soundsations

Minggu 5 Maret 2017, Gandaria City, Jakarta.

 Malam itu… diiringi Live Musik dari Danilla, Stars and Rabbit Dan Barasuara, juga celotehan Ricki Dan Jimi.

MC underground kenamaan ibukota

IMG-20170306-WA0003
Jimi Multhazam (Photo : Andryanto Ciputra)
IMG-20170306-WA0004
MC SOUNDSATIONS Ricky Malau (Kiri) Jimi (Kanan) (Photo : Andryanto Ciputra)

Datang ke gigs telat, jadi ga bisa liat Mondo Gascaro & Fourtwnty.

Malam itu Danilla.

IMG-20170306-WA0015
Danilla (Photo : Andryanto Ciputra)

Malam itu Stars and Rabbit.

IMG-20170306-WA0017
Elda Suryani (Stars and Rabbit) (Photo : Andryanto Ciputra)
IMG-20170306-WA0010
Elda Suryani (Stars and Rabbit) (Photo : Andryanto Ciputra)
IMG-20170306-WA0009
Elda Suryani (Stars and Rabbit) (Photo : Andryanto Ciputra)

Malam Itu Barasuara.

IMG-20170306-WA0005
Asteriska Cabrini (Barasuara) (Photo : Andryanto Ciputra)
IMG-20170306-WA0013
Iga Masardi (Barasuara) (Photo : Andryanto Ciputra)
IMG-20170306-WA0014
GESIT (Barasuara) (Photo : Andryanto Ciputra)

Malam itu…

IMG_20170305_214506IMG_20170305_214409IMG_20170305_214750

IMG_20170305_214810

Blog at WordPress.com.

Up ↑